BANDUNG – Jawa Barat, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai jantung tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia, kini tengah menghadapi masa-masa tersulitnya. Memasuki akhir tahun 2025, pemandangan pabrik yang menghentikan operasional dan gerbang industri yang terkunci menjadi potret buram sektor manufaktur di wilayah ini.
Badai Sempurna di Sektor Hulu dan Hilir
Krisis yang melanda bukan disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan sebuah “badai sempurna” yang menghantam dari berbagai sisi. Di sektor hulu, produsen serat dan benang lokal seperti PT Polychem Indonesia Tbk di Karawang terpaksa menutup lini produksi polyester karena kalah bersaing dengan harga bahan baku impor yang jauh lebih murah.
Sementara di sektor hilir, pakaian jadi produksi UMKM maupun pabrik besar di Bandung Raya tercekik oleh banjir produk impor ilegal dan fenomena thrifting (pakaian bekas) yang masih marak di pasar digital maupun fisik.
Relokasi dan Disparitas Upah
Selain faktor pasar, Jawa Barat juga menghadapi tantangan internal berupa kenaikan biaya operasional. Disparitas Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang cukup tinggi dibandingkan provinsi tetangga, seperti Jawa Tengah, memicu tren relokasi. Banyak pengusaha tekstil memilih memindahkan mesin-mesin mereka ke wilayah seperti Brebes atau Solo untuk menekan biaya produksi agar tetap kompetitif di pasar global.
Harapan Lewat Teknologi dan Investasi Baru
Meski situasi tampak kelam, harapan belum sepenuhnya padam. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat kini mulai mendorong skema digitalisasi manufaktur. Penggunaan mesin otomatisasi dan teknologi digital printing diharapkan dapat memangkas waktu produksi dan meningkatkan presisi produk lokal agar mampu bersaing dengan produk China maupun Vietnam.
Selain itu, masuknya investasi baru di kawasan Majalengka dan Subang (Rebana Metropolitan) memberikan sedikit angin segar. Beberapa investor global mulai melirik kawasan ini sebagai pusat garmen baru yang lebih efisien dengan dukungan infrastruktur Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati.
Kesimpulan
Industri tekstil Jawa Barat tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja, namun bukan berarti menemui ajalnya. Diperlukan langkah berani dari pemerintah pusat untuk memperketat pintu masuk impor serta dukungan nyata bagi industri lokal guna melakukan peremajaan mesin. Jika tidak, “Gaza” industri tekstil ini bisa berubah menjadi monumen masa lalu yang ditinggalkan.



